Oh Tidak!

Senin, 15 Oktober 2012


   Sinar matahari sang mentari menembus jendela kamarku dan mulai menggelitik kelopak mataku agar teruka. Dering jam wekerku turut membantu agar aku terbangun. Namun rasa kantukku berhasil menggagalkan semuanya. Aku pun menekan tombol snooze pada jam wekerku kemudian menarik selimutku hingga menutupi kepala dan mulai menjelajah alam mimpiku lagi.
Kriiiiing! Kriiiing!
   "Doni! Ayo bangun! Waktunya sekolah!" Aku pun terlonjak kaget mendengar dering jam wekerku dan teriakan ibu dari luar kamar. Dengan malas, aku melirik jam wekerku yang menunjukkan pukul 06.45. Eh? 06.45?
   "Aku terlambat!"

***

   Dengan kecepatan maksimal aku berlari menuju SMA Kartika, tempat di mana aku menimba ilmu bersama teman-temanku. SMA Kartika merupakan sekolah elit dan terkenal dengan peraturannya yang ketat. Jika terlambat masuk, lapangan basket yang luas siap untuk diputari 5 kali. Tentu saja aku tak mau itu. Kulihat pak satpam mulai menutup gerbang sekolah. Aku pun langsung menambah kecepatan lariku.
   "Tunggu! Jangan ditutup!" teriakku sabmil terus berlari. Tetapi satpam itu tetap melanjutkan kegiatannya, namun kali ini dalam gerakan lambat seolah memeriku sedikit waktu. 5... 4... 3... 2... 1...
Bruk!
   Aku terjatuh dengan tidak elitnya karena kaki kiriku terjepit di gerbang sekolah.
   "Aduh, maaf nak, maaf." kata satpam itu kepadaku.
   "Iya pak, nggak masalah." Satpam itupun membantuku berdiri setelah melepaskan kakiku dari gerbang. Setelah berterima kasih, aklu segera menuju ke kelas dengan kaki yang sedikit pincang. Sesampainya di kelas, Roy langsung menanyaiku.
   "Don, kenapa terlambat?"
   "Hhh, aku bangun kesiangan gara-gara nonton bola tadi malam," jawabku malas. Sedangkan teman sebangkuku ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Selanjutnya Yuki-sensei yang merupakan guru bahasa Jepang masuk ke kelas.
   "Ohayou gozaimasu" salamnya.
   "Ohayou gozaimasu" balas seisi kelas.
   "Keluarkan tugas kalian." perintah Yuki-sensei setelah mendudukkan dirinya di kursi. Setelah membuka tas, aku mencari-cari buku bahasa Jepangku, tetapi tidak ada. Bingung, aku pun mengeluarkan semua isi tasku. Namun nihil yang kudapat.
   "Loh, Don, kok kamu bawa pelajaran hari Selasa sih? Sekarang kan hari Rabu." tanya Roy sambil melihat buku-buku yang kukeluarkan.
   "Astaga! Aku lupa menata buku!" ujarku panik sambil menepuk jidat.
   "Baik, sekarng kumpulkan tugas kalian." perintah guru cantik nan menakutkan itu yang membuatku semakin panik. Dengan ketakutan, aku mengangkat tanganku.
   "Sumimasen, sensei"
   "Ya, ada apa?"
   "S-saya tidak membawa tugasnya." ujarku ketakutan. Yuki-sensei tersenyum kepadaku kemudian berkata, "Bersihkan toilet pria. Sekarang!"
   "B-baik."

***

   Dengan malas, aku mengepel lantai toilet pria yang baunya tidak bisa dibilanh wangi. Tak terasa, sudah setengah ruangan yang telah kubersihkan.
   "Fyuuuhh, tinggal sedikit lagi." kataku sedikit lega. Tiba-tiba seorang siswa membuka pintu toilet dan berlari menuju tempat pembuangan akhir. Tentu saja dengan mengunjak lantai yang telah kubersihkan dengan sepatunya. Sehingga lantai-lantai itu nejadi kotor lagi. Aku hanya isa berusaha sabar dan membersihkan lantai itu lagi. Di tengah kegiatanku, tiba-tiba aku mencium bau tak sedap yang memuatku ingin muntah. Dengan segera, aku menutup hidungku dan menolehkan kepalaku ke pintu pembuangan akhir yang tertutup. Astaga, pasti siswa tadi sakit perut.

***

   Setelah melewati hari yang melelahkan di sekolah, aku dan Roy pulang bersama. Kami berjalan dalam kesunyian. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Hingga akhirnya Roy bertanya kepadaku.
   "Don. tumben hari ini kamu lesu?"
   "Hn," jawabku tak jelas.
   "Hei, jawab yang benar! Kenpa? Kamu galau?"
   "Heh, aku bukan cowok cengeng yang hobi galau."
   "Lalu kenpa?"
   "Aku lelah, Roy." Dia terkekeh mendengar jawabanku.
   "Karena tadi pagi kamu lari maraton dari rumah sampai sekolah?" tebaknya yang kujawab dengan anggukan kepala.
   "Tapi bukan cuma itu," kataku. Roy pun menoleh kepadaku. "Aku tadi juga terjatuh karena kakiku terjepit di gerbang dan membersihkan toilet pria dua kali dengan aroma gas alam," lanjutku yang memuatnya tertawa. Dia sahabat yang menyebalakan, tertawa di atas penderitaan seseorang.
   "Hahaha, itu kan memang kesalahanmu." ujarnya sambil tertawa.
   "Hhh, memang. Ini semua karena aku keasyikan nonton bola sampai larut malam." ucapku membenarkan.
   "Makanya, jangan suka begadang." ujarnya menasehatiku.
   "Hn," responku tak jelas sambil menendang batu yang ada di depanku hinga mengenai seekor anjing yang sedang lewat. Anjing itu langsung menatapku marah.
   "Roy, hitungan ke tiga lari." perintahku kepada Roy yang mulai berkeringat dingin.
   "Tiga!" Roy dan aku langsung erlari sekencang mungkin dengan si anjing yang sedang marah. Oh tidak, hari ini aku benar-benar sial!

TAMAT

1 komentar:

GandisGakaci (Minho Yeosaeng) mengatakan...

Walah-walah Sial sekali itu si Doni
mungkin kalau ada peribahasa "Sudah jatuh tertimpa tangga pula lagi udah gitu dikejar anjing terus terpleset masuk lumpangan" Ya Allah

Posting Komentar

Obral obrol